Belajar Fundamental Sejak Dini?

Web Development Nov 03, 2020

Pertama kali belajar JavaScript, saya mengira bahwa jQuery dan JS ini adalah 2 bahasa yang berbeda. Akhirnya saya memilih belajar jQuery, karena sintaksis yang lebih sederhana. Seiring berjalanannya waktu saya mulai sadar jQuery adalah sebuah pustaka JavaScript. Akhirnya setelah 5 tahun pakai jQuery, saya belajar JS fundamental, untuk menghilangkan kebergantungan terhadap jQuery.

Ketika pemahaman saya masih minim terhadap JS fundamental, saya belajar AngularJS. Ya, Angular 1 adalah framework JS pertama yang saya pelajari. Saya bingung dengan sintaksis Angular, kemudian saya coba cari satu per satu apa yang saya tidak mengerti dan akhirnya membawa saya untuk mendalami JS fundamental.

Ketika pakai PHP, teman-teman saya sudah menggunakan CodeIgniter yang di mana sedang populer-populernya. Lalu saya tertarik belajar CI, padahal saat itu saya gak ngerti OOP. Akhirnya saya bingung, karena sintaksis CI ini beda dengan PHP native yang saya ketahui. Karena hal itulah saya “terpaksa” belajar OOP, agar mampu mengerti CI lebih baik lagi.

Begitu juga dengan tech-tech lainnya yang saya pelajari, seperti Figma, Node, React, etc. Ketika belajar Figma, saya nggak baca docs-nya, langsung aja buka app tersebut dan mulai menggambar di Canvas. Ketika belajar React, saya langsung melompat ke bagian “quickstart”, supaya tahu app yang dibuat dengan React itu seperti apa. Sampai akhirnya saya menemukan kebingungan sendiri terhadap sesuatu tersebut karena saya nggak mempelajari fundamentalnya. Dan pada akhirnya saya kembali mempelajari fundamentalnya, kendati saya sudah tau cara menggunakannya.

Sama halnya juga ketika saya belajar bermain gitar, saya nggak tau teorinya, yang saya inginkan bagaimana saya bisa bermain gitar agar dapat membawakan lagu favorit saya. Ketika bisa bermain gitar, saya mulai bertanya-tanya, “kenapa chord bagian sini disebut D#? oh berarti ada urutannya?” dan akhirnya saya baca-baca lagi soal itu supaya tau alasannya.

Ketika masih kuliah, saya mencoba membuat kuliah umum untuk mengajar teman-teman saya soal web development (walaupun gak lama). Ketika mengajari mereka, saya langsung membuat mereka praktik, menulis kode, membuat website pertama mereka; karena saya tahu, mereka datang ke kelas itu ingin mencoba menulis kodenya sendiri dan mulai membuat sesuatu. Dan minggu berikutnya beberapa orang datang lagi, karena “menyenangkan” katanya.

Belajar fundamental itu penting memang. Tapi, coba kamu bayangin ketika seorang yang awam hendak belajar web development, lalu ia malah diberikan teori fundamental, seperti bagaimana web bekerja, bagaimana browser bekerja, atau bagaimana jaringan bekerja. Ya, kemungkinan besar orang tersebut kehilangan motivasi, dan menyerah karena terlalu diberi asupan teori sejak awal.

Maksud saya begini, tidak semua orang harus memulainya dari sana. Ada orang yang ingin melihat hasilnya buru-buru, bahkan ada orang yang harus menggunakan visual, dan lain sebagainya.

Programmer, bagi saya, tidak dapat dianalogikan dengan dokter. Karena programmer yang tidak spesialis pun mampu melakukan “operasi”.

Biarkan saja orang belajar dengan starting point-nya sendiri, biarkan juga itu mengalir, hingga orang tersebut menemukan kebingungannya sendiri yang menjadi trigger ia mempelajari hal yang fundamental.

Hingga saat ini, saya masih sering buka MDN, bahkan seringkali saya baca-baca apapun hingga berjam-jam. Karena biasanya ada beberapa hal yang saya baru tahu atau sudah tau tapi “misapprehension”.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman yang baru belajar soal teknologi apapun. Karena sama-sama pelajar, kita harus saling menyemangati. Jangan takut “salah belajar”; jangan terlalu kaku terhadap “roadmap”; jangan malu bila di-bully karena tidak tahu akan sesuatu, karena tidak ada yang dapat menjadi rockstar dalam semalam.

Tag

Admin Multinity

Seorang admin di Multinity tercinta.